INFO YANG DITERBITKAN (atau dipetik) MUNGKIN SEADANYA PADA TARIKH DITULIS. TARIKH DITULIS TIDAK SAMA DENGAN TARIKH DITERBITKAN. PERTAMBAHAN ATAU PERUBAHAN TERHADAP INFO TERSEBUT DITULIS DAN DITERBITKAN PADA TARIKH-TARIKH YANG SETERUSNYA. Contoh: 'ORANGNYA' DITERBITKAN DAHULU TETAPI 'CERITANYA' DITERBITKAN KEMUDIAN. MARILAH KITA BANTU MEMBANTU SESAMA SENDIRI. Tetapi cepat-cepatlah sedar jika muncul 'manusia' yang akan menyuruh kita bergaduh sesama kita.
SIAP 3/26/15 rUKUN iSLAM (Kulit)
SAMBUNG 3/26/15 tUJUH cONTOH fITNAH

20180219

Senarai Harga Buku-buku Lama

The Misticism of Hamzah Fansuri - RM1,500
Anugerah Pertama Ramlee Awang Murshid - RM250
Pei Pan Ramlee Awang Murshid - RM300
Debar Pertama Datuk A. Samad Said - RM200
Ranjau Sepanjang Jalan Shahnon Ahmad - RM300
Salina Datuk A. Samad Said -
Konserto Terakhir Datuk Abdullah Hussein\
Warkah Eropah Datuk A.Samad Said - RM100
Hang Tuah terbitan Balai Pustaka - RM250
Arus Balik Pramoedya Ananta terbitan Toer Wira - RM600
Falsafah Hidup Dr. Hamka-

Rujukan:
1. Utusan
2. Buku

10 comments:

Anonymous said...

Asal Usul Berdirinya Sultan-Sultan

Bismillahirrahmanirrahim

Ketentuan asal usul usali berdirinya Sultan-Sultan dalam kerajaan Indopuro Khalifatullah di ateh bumi Nabi Adam As. Khalifatullah Nabih As. nan mulo-mulo mambuek pelang disusun di ateh bukit Thursina dan nan mulo-mulo manjadi urang palayaran yaitu : Sulthan Iskandar Dzulkarnain Daulatullah Fil Alam Nusyirwan Adil, Rajo Masyrik dan Maghrib.Sultan Maharajo Alif kerajaan di benua Ruhum dan Sultan Sri Maharajo Depang kerajaan di Tibet benua Cina

Sultan Sri Maharajo Dirajo kerajaan di Pulau Linggapuri di lereng Gunung Merapi, Lagundi Nan Baselo, Sawah Satampang Banieh, Pariangan Padang Panjang.

Khalifatul Alam Sultan Muhammadsyah kerajaan di Indopuro, syahdan Sultan, Rajo yang berdiri dengan sendirinyo, rajo nan tidak dapek dikilek, tidak dapek dikiek, tidak dapek disilek, tidak dapek dibuek mempunyai ahli waris turun temurun.

Kredit Tambo Minangkabau

Anonymous said...

Di dalam Ranji Asli Keturunan Raja-Raja dan Sultan-Sultan Kerajaan Kesultanan Indrapura yang diwarisi oleh Sutan Boerhanoeddin Gelar Sultan Firmansyah Alamsyah, (Transkrips,1989) dikisahkan secara ringkas :

“Adopun nan bakuaso samaso itu disabut Daulat Sultan Sri Maharajo Dirajo, kerajaan di Pulau Linggapuri, kemudian banamo Pulau Emas, Pulau Perca, Lagundi Nan Baselo yaitu puncak gunung Marapi. Disitulah nan banamo Parahiangan istana Sultan, atau disabut Kerajaan Sultan Tajul Alamsyah.

Pado maso itu belum banamo kerajaan Pagaruyung, dan alam ini balun banamo Minangkabau.

Yang Ulia Daulat Sultan Sri Maharajo Dirajo berlayar mengarungi lautan besar dengan sebuah rakit sampai ke Bukit Seguntang-guntang dan sampai ke sebuah pulau, yang kemudian pulau itu beliau beri nama Singapura. Seterusnya beliau jadikan nagari Johor, Malaka dan Patani, dan lain-lain. Dan beliau inilah yang menurunkan kerajaan Sultan Nagari Sembilan. Dan disinilah pula pangkalnya hubungan keluarga Minangkabau dan Kerajaan Indropuro dengan kerajaan Nagari Sembilan, Malaya.”

Anonymous said...

Hampir semua Tambo Minangkabau menyebut bahwa Iskandar Dzulkarnain adalah putra dari Nabi Siyst As. anak terbungsu Nabi Adam As. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa Iskandar Dzulkarnain itu sebenarnya adalah Nabi Siyst As. sendiri.
Riwayat Iskandar Dzulkarnain dimulai dari Iskandar Dzulkarnain yang menjadi anak bungsu Nabi Adam A.s., karena tidak memiliki pasangan di dunia, atas berkat do’a-do’a Nabi Adam A.s. yang memohonkan jodoh untuk anak bungsunya itu, dikabulkan Tuhan Rabbul Alamin. Putra bungsu Nabi Adam A.s. tersebut lalu dinikahkan oleh malaikat Jibril A.s. dengan seorang putri bidadari dari surga, Jati Ratna namanya, dan sejak itu pula ia diberi gelar kebesaran dengan nama Iskandar Dzulkarnain. Dengan pasangan bidadari itu Iskandar Dzulkarnain memperoleh tiga orang putra, yakni : Sultan Sri Maharaja Alif, di benua Rum, Sultan Sri Maharaja Dipang yang pergi ke Tibet negeri Cina, dan Sultan Sri Maharaja Diraja menjadi raja di Alam Minangkabau.
Minangkabau selalu memulai dengan Sultan Sri Maharaja Diraja sebagai tokoh sentral Daulat Yang Dipertuan Pulau Perca, yang kemudian nama Pulau Perca berganti menjadi Pulau Emas, Pulau Sumatera sampai akhirnya kepada zaman Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung.
Menurunkan pula Sultan-Sultan, dan dari anak cucu mereka pula banyak raja raja yang tersebar di berbagai negeri berkuasa pada zamannya di pulau Sumatera, bahkan sampai ke Negeri Sembilan, Singapura, Johor, Serawak dan Brunei Darussalam merupakan belahan persaudaraannya.
Tambo Minangkabau mengisahkan bahwa Daulat Sultan Sri Maharaja Diraja naik ke pinggang gunung Marapi sampai di Pariangan, kawin dengan Puti Indo Jalito (bukan Indo Jati – pen.) dan berputra seorang yang bernama Sutan Paduko Basa bergelar Datuk Ketumanggungan.
Apabila yang dimaksud di sini adalah ayah dan ibu kandung Sutan Paduko Basa yang bergelar Datuk Ketumanggungan, maka yang menyandang gelar Daulat Sultan Sri Maharaja Diraja itu adalah Raja Natan Sangsita Sangkala, Sang Pertalo Kala yang naik ke Pariangan, kemudian nikah dengan Puti Indo Jalito.
Di Pariangan inilah ia dinobatkan sebagai penjunjung gelar mahkota Daulat Sri Maharaja Diraja tersebut, akibat perkawinannya dengan Putri Indo Jalito.
Namun sebelumnya Raja Natan Sangsita Sangkala ini juga telah menikah dengan Putri Bijayo Dewi anak raja Palembang, melahirkan 4 orang putra putri, seperti telah disebutkan terdahulu.
Yakni Putri Sri Dewi yang pergi ke Cina, Putri Candra Dewi ke Madang Kamulan Majapahit, Raja Mandalika ke Tanjung Pura, dan Sang Pertalo Jama Nila Utama menjadi Raja di Temasik yang kemudian menjadi Singapura.
Berarti yang disebut sebagai Nila Utama dengan gelar Sang Sapurba menurut Sejarah Melayu, tidak lain adalah Sang Sita Sangkala menurut Tambo Rajo-Rajo Gunung Merapi di Pariangan.
Sementara itu Raja Natan ini juga telah menikah dengan Putri Betari Dewi di Natan sendiri, dan dengan Putri Reno Jani kemenakan kandung Maharaja Tiga Laras di Melayu Kampung Dalam, Siguntur Pulau Punjung, melahirkan pula beberapa orang putra dan putri..
Setelah beberapa lama Daulat Yang Dipertuan meninggal dunia, permaisuri beliau Puti Indo Jalito, kemudian kawin pula dengan seorang Cati Bilang Pandai yang menyandang gelar Indojati dan memperoleh beberapa orang anak. Yang tertua dari anak anak tersebut kelak kemudian diberi gelar Datuk Perpatih Nan Sabatang. Dalam sejarahnya kemudian kedua putra ini menjadi tokoh utama pemikir dan pendiri Adat Alam Minangkabau, yang berpusat di Pagaruyung.

Anonymous said...


Banyak tambo-tambo Minangkabau mencatat kisah-kisah Sultan Iskandar Dzulkarnain ini sebagai ringkasan-ringkasan yang terpotong, sehingga urutan sejarahnya menjadi kabur. [51] Dugaan ini, karena ada pula tambo yang menuturkan melanjutkan kisahnya sampai kepada zaman Nabi Nuh A.s. yang dikenal sebagai bapak manusia yang kedua setelah Nabi Adam As. ketika kiamat Nuh terjadi di bumi ini, setelah selamat menghadapi banjir besar, Nabi Nuh A.s. berputra tiga orang yakni Ham, Zam, dan Yafist.
Kelak menurunkan bangsa-bangsa di dunia dengan watak keperibadian yang berbeza. Diantaranya ada pula yang menurunkan raja-raja pertuanan. Masalahnya sekarang, siapakah yang menyandang gelar Mahkota Daulat Sultan Sri Maharajo Dirajo yang pertama ?

kredit tambo minangkabau

Anonymous said...

salam,tuanpuan.

kiasnya kepada;[masalahnya sekarang]


tak ada masalahpun;yang bermasalah adalah manusia yang membaca al quraan dan al sunnah,tetapi tak paham apa yang mereka bacakan,itu aje.

jawapannya ada dalam seluruh ayat-ayat al quraan dan al sunnah itu.[telah tertulis dengan jelas kilaf kiasnya, dari hari pertama alam(kun), sehingga hari akhir alam ini(kiamat)][dan termasuk masyhar,surga dan neraka].

baca dan fikirkan molek-molek,jangan buat berserabut kepalalah.nak pening-pening.

Anonymous said...

Sayyid Ali Nurul Alam

Saudara kandung Saiyid Ibrahim al-Hadhrami/Ibrahim al-Ghozi/Ibrahim Asmoro/Sunan Nggesik yang ketiga ialah Saiyid Ali Nurul Alam.

Saiyid Nurul Alam ini riwayatnya sangat panjang, di samping sejarah yang nyata diselubungi pelbagai misteri. Contohnya, dikatakan Saiyid Ali Nur Alam wafat di Campa pada 1467 M dan jenazahnya dikebumikan di Kampung Garak Ruwain (Binjal Lima). Binjal Lima dalam bahasa Melayu asli Patani disebut Binje Limo.

Riwayat lain pula mengatakan Syeikh Nurul Alam pernah memerintah negeri Mesir. Riwayat lain mengatakan Saiyid Ali Nur Alam ialah Sultan Qunbul. Sementara itu, dalam satu lagi riwayat mengatakan bahawa beliaulah Aria Patih Gajah yang terkenal sebagai Perdana Menteri Majapahit itu.

Setelah penulis melakukan penyelidikan terhadap tokoh ini, terdapat beberapa nama beliau selain bernama Saiyid Ali Nurul Alam.

Namun, penulis belum berani menentukan kebenaran cerita itu kerana tidak cukup bukti sama ada membenarkan atau pun menyalahkannya.

Melalui beberapa orang anaknya menjadikan keturunannya yang sangat ramai. Ramai yang menjadi ulama dan tokoh dunia Melayu yang sangat terkenal.

Anak-anak Saiyid Ali Nurul Alam yang dapat dicatat di antaranya ialah;

nWan Abdullah atau Sultan Umdatuddin (Sultan Cam/Champa) atau Wan Abu atau Wan Bo Teri Teri.

*Wan Husein Sanawi.

*Wan Demali.

*Wan Hasan.

*Wan Jamal.

*Wan Biru.

*Wan Senik.

*Syeikh Wan Muhammad Shalih al-Laqihi.

*Maulana Abu Ishaq.

Adapun melalui pertalian anak Saiyid Ali Nurul Alam yang bernama Wan Abdullah/Sultan Umdatullah (nombor 1), beliau juga dikenali sebagai Sultan Hud, Maulana Sultan Mahmud. Lebih ke atas dari itu kadang-kadang terdapat kelainan nama-nama antara versi Patani, Kemboja dan Banten tradisional dengan pengolahan salasilah setelah ada campur tangan oleh pengkaji yang datang kemudian.

Untuk perbandingan antara salasilah Saiyid Ibrahim Hadhrami al-Jarimi al-Yamani yang telah disebutkan, dengan Saiyid Ali Nur Alam di bawah ini penulis menyalin salasilah Syeikh Muhammad Ahyad, yang penulis salin dari tulisan Tuan Guru Haji Mahmud bin Yusuf Juawi/Diwani, iaitu murid Syeikh Muhammad Ahyad.


Anonymous said...

Sayyid Ali Nurul Alam

Beliau ini memperoleh tiga orang anak yang menjadi tokoh terkenal, dengan melalui salasilah keturunan beliau sebagai berikut;

* Sultan Maulana Makhdum Jati, demikian tertulis dalam salasilah maksudnya adalah Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah atau Falatihan.

* Sultan Hud, maksudnya Sultan Umdatullah atau Wan Abdullah.

* Sultan Bani Israil Sultan Banten.

* Saidina Jamadil Kubra.

* Saidina Jamadil Kabir.

* Saidina Zainul Kabir.

* Saidina Zainal Abidin.

* Saidina Husein

* Saidatina Fathimah.

* Saidina wa Nabiyina Muhammad s.a.w.

Salasilah di atas kemungkinan tersalah salin, ternyata ketinggalan beberapa nama yang umum diketahui oleh ahli sejarah.

Pada nombor 4 dan nombor 5 kemungkinan adalah orang yang sama. Kedua-duanya dalam salasilah Saiyid Ibrahim al-Hadhrami adalah Ahmad Syah Jalal. Perantaraan nama Saidina Zainul Kabir (nombor 6), kemungkinan Ahmad Syah Jalal, hingga ke atas terdapat 16 nama yang tidak disalin (untuk penjelasan yang lanjut, dirujuk kepada salasilah Syeikh Ibrahim al-Hadhrami al-Jarimi al-Yamani).

Dalam beberapa buku sejarah dicatatkan bahawa putera Sultan Umdatullah ada tiga orang iaitu;

1. Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati atau Falatihan.

2. Sultan Babullah, Sultan Ternate (1570-1583).

3. Maulana Abdul Muzaffar Ahmad.

Anak Sunan Gunung Jati (nombor 1) bin Sultan Umdatullah bin Saiyid Ali Nurul Alam ialah;

1. Maulana Sultan Hasanuddin, iaitulah Sultan Banten yang pertama (I) atau Sultan Habibullah Umar Imaduddin atau digelar dengan Pangeran Jaya Kelana, wafat tahun 1059 H/1649 M.

2. Muhammad Hasyim atau Pengeran Paserahan Kedua, makamnya di Gunung Jati.

3. Pangeran Paserahan Umdatuddin Husein, makamnya berdekatan dengan Gunung Jati.

Maulana Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati bin Saiyid Ali Nur Alam memperoleh dua orang anak iaitu Maulana Sultan Yusuf (Sultan Banten II), wafat di Cerebon pada 1070 H/1659 M. Seorang lagi bernama Maulana Abdul Aziz, wafat pada 1061 H/1650 M di Cerebon.

Anak Maulana Sultan Yusuf bernama Sultan Muhammad. Anak Sultan Muhammad bernama Sultan Abdul Mafakhir. Seterusnya anak Sultan Abdul Mafakhir bernama Sultan Abdul Ma’ali Ahmad. Anak Sultan Abul Ma’ali Ahmad bernama Abdul Fattah atau Sultan Ageng Tirtayasa.

Beliau inilah sahabat dan ayah mertua Syeikh Yusuf Tajul Khalwati yang berasal dari Bugis yang sangat terkenal itu. Anak Sultan Ageng Tirtayasa bernama Abun Nasar Abdul Qahhar, yang terkenal dengan sebutan Sultan Haji.



Anonymous said...

Salasilah yang disebutkan di atas cukup panjang untuk dibicarakan. Selanjutnya dalam salasilah ini pula ada hubungkait dengan Kesultanan Brunei Darussalam hinggalah sultan yang memerintah sekarang, iaitu Sultan Hassanal Bolkiah.

Ulama-ulama yang berasal dari Banten pula ramai keturunan Ali Nurul Alam, dalam salasilah Syeikh Nawawi al-Bantani (Imam Nawawi ats-Tsani) dinyatakan namanya Ali Nuruddin. Ulama Banten itu adalah keturunan yang ke-14.

Ulama Banten yang sangat terkenal pula ialah Syeikh Abdul Karim bin Ki Bukhari, adalah keturunan yang ke-13 kerana beliau adalah ayah saudara sepupu bagi Syeikh Nawawi al-Bantani.

Salah seorang ulama keturunan Sunan Gunung Jati, dikatakan sebagai cucu beliau ialah Kiai Haji Muhammad Khalil al-Maduri atau lebih popular dengan sebutan Kiai Khalil saja.

Ulama ini sangat terkenal kerana daripada didikan beliau melahirkan ulama-ulama yang sangat terkenal di Indonesia di antaranya Kiai Haji Hasyim Asy’ari dan lain-lain.

Selanjutnya seorang ulama keturunan Sunan Gunung Jati awal kurun ke 20 yang mengajar di Masjidil Haram ialah Syeikh Muhammad Ahyad. Salasilah beliau seperti berikut;

1. Syeikh Muhammad Ahyad bin

2. Raden Angka Wijaya/Raden Jaka atau Haji Mu-hammad Idris bin

3. Tubagus Jaya Peraja atau Haji Abu Bakar bin

4. Tubagus Mustafa al-Bakri bin

5. Tubagus Abdul Qadir bin

6. Tubagus Lanang bin

7. Tubagus Antip bin

8. Tubagus Jaya bin

9. Tubagus Sa’ad bin

10. Pangeran Adung bin

11. Pangeran Suma Kusuma Ningrat bin

12. Pangeran Yuda Ningrat bin

13. Pangeran Bayum bin

14. Pangeran Gandi atau Pangeran Gazi bin

15. Pangeran Wangsa Pati bin

16. Pangeran Senapati bin

17. Pangeran Aria Kesumah bin

18. Pangeran Wangsa Pati

19. Pangeran Dipati Buana bin

20. Pangeran Pajajaran bin

21. Ratu Galuh bin

22. Sultan Maulana Yusuf bin

23. Sultan Maulana Hasanuddin bin

24. Sultan Maulana Makhdum Jati (Sunan Gunung Jati)

Anonymous said...

Keturunan Saiyid Ali Nurul Alam melalui cicitnya Muhammad Hasyim bin Sunan Gunung Jati bin Umdatuddin bin Saiyid Nurul Alam, bahawa beliau memperoleh lapan orang anak, iaitu:

1. Ahmad.

2. Abu Bakar.

3. Hasyim.

4. Alwi.

5. Abdus Salam.

6. Mas Dewi.

7. Puteri Aminah.

8. Mas Dewi Puteri Saidah Ratu Greng.

Keturunan Saiyid Ali Nurul Alam melalui cicitnya Umdatuddin Husein bin Sunan Gunung Jati bin Umdatuddin bin Saiyid Ali Nurul Alam, bahawa beliau memperoleh dua orang orang, iaitu;

1. Syarifah Tolkah Ratu Mindo.

2. Syarifah Alawiyah Ratu Demang.

Pada tahun 1972 penulis bertemu dengan salah seorang keturunan Wan Husein Sanawi al-Fathani, iaitu Mokhtar, yang ketika itu sedang kuliah di Institut Agama Islam Negeri di Yogyakarta (IAIN).

Menurutnya, datuk neneknya masih ada kekeluargaan yang dekat dengan datuk nenek Syeikh Ahmad al-Fathani dan ulama-ulama Patani lainnya. Sebagaimana petunjuknya, pada 1976 penulis ke Duku, Pik Bong (Thailand) untuk menemui seorang ulama yang tertua di situ serta sangat mengetahui akan salasilah keluarga yang sedang dibicarakan itu.

Beliau ialah Tuan Guru Haji Abdul Hamid Duku bin al-Alim al-Allamah Haji Abdul Qadir (Tok Duku).

Sejak itu hingga tahun 1992, penulis kerap menemui beliau dan mencatat salasilah serta pelbagai sejarah yang tertakluk dengan keluarga besar keturunan penyebar-penyebar Islam yang ada hubungan dengan beliau.

Disimpulkan bahawa penyebar-penyebar Islam dalam keluarga besar ini adalah berasal dari dua tempat di Patani iaitu dari Kampung Jerim dan Kampung Sena. Semua mereka adalah berpunca dari satu, iaitu dari Hadhramaut keturunan ‘al-Aidrus’.

Mereka mengembara menyebarkan Islam di seluruh alam Melayu. Ada yang ke Kemboja, Jawa, Bugis, Borneo, Sumbawa, Aceh dan tempat-tempat lainnya.

Wan Husein pernah dilantik oleh Sunan Ampel iaitu saudara sepupunya sebagai wakil beliau menyebarkan Islam di Pulau Madura. Adapun Wan Husein bin Saiyid Ali Nur Alam dilahirkan di Kampung Sena, iaitu kampung yang dibuka lebih luas lagi oleh Faqih Wan Musa al-Fathani datuk nenek Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani.

Antara Faqih Wan Musa al-Fathani dengan Wan Husein Sanawi adalah berasal daripada satu pertalian datuk nenek. Titik temu salasilah adalah pada Saiyid Jamaluddin al-Husein. Faqih Wan Musa adalah keturunan Saiyid Ibrahim al-Hadhrami dari sebelah perempuan dan Ali al-Laqihi dari pertalian lurus sebelah ayah ke datuk ke moyang dan seterusnya. Sedangkan Wan Husein dan Wan Muhammad Shalih adalah anak Sultan Qunbul @ Saiyid Ali Nur Alam.

Oleh itu, sekiranya diperhatikan salasilah ini bererti Faqih Wan Musa bin Wan Muhammad Shalih adalah anak saudara Wan Husein Sanawi. Saiyid Ibrahim al-Hadhrami/Ibrahim al-Ghozi dan Saiyid Ali Nur Alam adik-beradik. Kemudian, ke bawahnya pula terjadi jalinan perkahwinan kekeluargaan beberapa kali.

Wan Husein sebelum membuka kawasan Telok Manok terlebih dulu mengembara ke beberapa tempat. Dari Kampung Sena, Patani terus ke Cam/Kemboja, terus ke Jawa. Beliau mengajar lama di Pulau Madura dan Pulau Sumbawa, kemudian kembali lagi ke Cam/Kemboja. Dan seterusnya membuka Kampung Telok Manok.

Sebuah masjid yang dibinanya masih ada sampai sekarang ini. Masjid Telok Manok itu termasuk salah sebuah masjid yang tertua di bekas Kerajaan Fathani Darus Salam yang masih wujud sampai sekarang.

Oleh kerana salasilah keturunan pada tokoh ulama ini dibicarakan panjang, maka penulisan ini akan berhenti setakat ini dan akan disambung semula di artikel yang lain, dengan melalui sambungan salasilah Wan Husein, yang membuka Kampung Telok Manok.

Tentang Saiyid Ali Nurul Alam

*Beliau juga dikenali dengan sebagai Syeikh Ali al-Masyhur al-Laqihi, Syeikh Ali al-Laqihi, Ali Nuruddin, Nurul Alim Ali,Ali Nurul Alim, S. Nurul Alam Siam dan Sultan Qunbul.

*Saudara kandung kepada Saiyid Ibrahim al-Hadhrami/Ibrahim al-Ghozi/Ibrahim Asmoro/Sunan Nggesik

*Ulama-ulama yang berasal dari Banten, ramai daripada keturunan Ali Nurul Alam.

*Wafat di Campa pada 1467 M dan jenazahnya dikebumikan di Kampung Garak Ruwain (Binjal Lima)



Anonymous said...

salam,tuanpuan.

betulke atau main agak-agak bersandarkan dari buku yang telah ditulis orang?.

kalau susunan itu betul dan sah,makanya kenapa perebutan untuk jawatan dan pusaka amanah masih lagi berlegar dalam kalangan keluarga besar itu.

mana perginya ketua keluarga mereka,sebagai pendamai timbangtara keluarga?.