KAEDAH KAJIAN DAN SANDARAN TERJEMAHAN AL-QURAN

PERTAMA Epistemologi Islam Bersepadu dengan aplikasikan pendekatan rekonstruktif (Tajdid) dan analisis sosio-historis (Kontekstual) secara dekonstruktif-evaluatif (Kritikal) serta tematik-konseptual (Analitikal) bagi membezakan ayat yang jelas(Muhkam) dan yang samar (Mutashabihah). KEDUA Sandaran utama terjemahan adalah : Terjemahan Pimpinan Ar Rahman JAKIM Malaysia. Terjemahan Indonesia dan Brunei juga diberi perhatian. Serta Tafsir Tarjuman al-Mustafid (Abad ke-17): Karya Syeikh Abdurrauf al-Fansuri al-Singkili dari Aceh yang disunting (tashih) olah Syeikh Ahmad al-Fatani tahun 1884M dan dicetak di Istanbul, Turki. KETIGA. Menjaga hukum syarak yang terikat dengan Asbabun Nuzul, Hadis Sahih, Sunnah Rasulullah dan sahabat yang empat. Kami usahakan tadabbur untuk gali dimensi pemikiran falsafah ilmu dan mukjizat intelektual Al-Quran.

20230131

Pendekatan 61: Beramal yang tidak ada rasa bangga dengan amalnya itu

Tiada suatu amal kebaikan yang dapat diharapkan diterima oleh Allah, melebihi dari amal yang terlupa olehmu adanya dan remeh/kecil dalam pandanganmu kejadiannya. 

Amal kebaikan yang pasti diterima oleh Allah, yaitu jika merasa  bahwa amal itu semata-mata terjadi karena taufiq hidayah dari Allah,  kemudian ia tidak berbangga dengan amal itu, dan tidak merasa seolah-olah sudah cukup baik dengan adanya amal itu. 

Karena amal itu telah ditujukan kepada keridhaan Allah, maka tidak usah diingat-ingat lagi. 

Sebab siapa yang merasa sudah beramal, jarang sekali yang tidak merasa ujub/bangga dengan amalnya itu.

Dan itu suatu bahaya bagi amal itu.