KAEDAH KAJIAN DAN SANDARAN TERJEMAHAN AL-QURAN

PERTAMA Epistemologi Islam Bersepadu dengan aplikasikan pendekatan rekonstruktif (Tajdid) dan analisis sosio-historis (Kontekstual) secara dekonstruktif-evaluatif (Kritikal) serta tematik-konseptual (Analitikal) bagi membezakan ayat yang jelas(Muhkam) dan yang samar (Mutashabihah). KEDUA Sandaran utama terjemahan adalah : Terjemahan Pimpinan Ar Rahman JAKIM Malaysia. Terjemahan Indonesia dan Brunei juga diberi perhatian. Serta Tafsir Tarjuman al-Mustafid (Abad ke-17): Karya Syeikh Abdurrauf al-Fansuri al-Singkili dari Aceh yang disunting (tashih) olah Syeikh Ahmad al-Fatani tahun 1884M dan dicetak di Istanbul, Turki. KETIGA. Menjaga hukum syarak yang terikat dengan Asbabun Nuzul, Hadis Sahih, Sunnah Rasulullah dan sahabat yang empat. Kami usahakan tadabbur untuk gali dimensi pemikiran falsafah ilmu dan mukjizat intelektual Al-Quran.

20230804

Pendekatan 80: Menjawab dan menceritakan semua yang ia tahu, itulah orang bodoh.

80) Siapa yang selalu menjawab segala pertanyaan, 

dan menceritakan segala yang telah dilihat, 

dan menyebut segala apa yang ia ingat (ketahui), 

maka ketahuilah bahwa yang demikian itu tanda kebodohan orang itu. 


Menjawab segala pertanyaan yang berhubungan ilmu bathin yang dituangkan Allah dalam hati orang arifin, 

menunjukkan adanya kebodohan, 

demikian pula jika menceritakan segala yang dilihat, 

sebab semua itu berupa rahasia Allah yang diberikan kepada seorang hambaNya, 

maka jika diterangkan kepada yang bukan ahlinya, 

hanya akan menjadikan ejekan dan pendustaan belaka. 

Karena itu menerangkan (menceritakan) berarti bodoh. 


20230728

Pendekatan 79: Supaya tidak ada orang berbangga dengan amal perbuatannya.

79) Jarang sekali terjadi kurnia besar dari Allah itu kecuali secara mendadak (tiba-tiba), 

supaya tidak ada orang yang mengaku bahwa ia dapat karena telah mengadakan persiapan untuk menerima kurnia itu. 


Allah mewahyukan kepada Nabi Musa as. : 

Tahukah engkau mengapakah Aku mengangkat engkau sebagai Nabi yang langsung mendengar kalam Ku? 

Jawab Musa : Engkau yang lebih mengetahui. 

Bersabda Tuhan : Ketika Aku larikan semua kambing Nabi Syuaib yang kau pelihara itu, sehingga dengan susah payah engkau mengejar kambing-kambing itu untuk mengembalikannya, tetapi kemudian setelah kembali semuanya engkau tidak merasa jengkel/marah, maka itulah sebabnya. 


Dalam Hadits, seorang pelacur yang memberi minum kepada anjing, 

tiba-tiba Allah bersyukur kepadanya dan mengampunkan semua dosanya. 

Demikianlah kehormatan dan kurnia-kurnia besar dari Allah itu, tidak dapat diraba oleh manusia, dan selalu diberikan oleh Allah secara tiba-tiba, supaya tidak ada orang berbangga dengan amal perbuatannya.

20230721

Pendekatan 78: Allah sendiri yang memilih dua kaum

78) Ada kaum yang oleh Allah didudukkan dalam bagian ibadat semata-mata dan ada kaum yang diistimewakan oleh Allah dengan kecintaanNya. 

Untuk masing-masing Kami (Allah) memberi Kurnia 

dan pemberian-pemberian, 

dan pemberian Tuhanmu tidak terbatas. 


Allah sendiri yang memilih hambanya, 

(PERTAMA) maka ada yang dipilih untuk melaksanakan ibadat yang lahir 

ialah mereka para aabid dan zahid, 

(KEDUA) dan ada pula yang dipilih oleh Allah untuk kesayangan (kekasih) Allah 

dan mereka ini orang-orang aarif muhibbin 

yang tidak ada tempat dalam hati mereka kecuali dzikrullah semata-mata. 

Menganggap dunia ini kosong tidak ada apa-apa kecuali 

Allah yang menciptakan dan melaksanakan segala sesuatunya. 


20230714

Pendekatan 77: MUQARRABIN , ABRAAR dan TAUFIQ HIDAYAT

 

77) Jika kau melihat seorang yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, 

sampai lama tidak juga menerima kurnia (keistimewaan) dari Allah, 

maka jangan kau remehkan pemberian Tuhan kepadanya, 

karena belum terlihat padanya tanda orang arif, 

atau keindahan orang cinta pada Allah, 

sebab sekiranya tidak ada wand (kurnia Allah), maka tidak mungkin adanya wirid. 


Hamba Allah yang mendapat keistimewaan dari Allah ada dua macam : 

MUQARRABIN dan ABRAAR

Adapun hamba yang MUQARRABIN itu, maka mereka yang telah dibebaskan dari kepentingan dunia, yang hanya sibuk menunaikan ibadat kepada Tuhan, karena merasa sebagai hamba yang mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, dan mereka ini yang disebut aarifin, muhibbin. 


Adapun orang ABRAAR, mereka yang masih merasa banyak kepentingan di dunia, di samping kewajiban-kewajiban taat ibadat kepada Allah, dan mereka yang dinamakan orang zahid aabid, dan masing-masing mendapat kurnia sendiri-sendiri di dalam tingkat derajatnya yang langsung dari Allah ta’ala. 

Sebenarnya seorang yang mendapat TAUFIQ HIDAYAT dari Allah sehingga istiqamah dalam menjalankan suatu wirid (kelakuan taat/ ibadat), berarti telah mendapat kurnia dan rahmat yang besar sekali. 

Sebab ia berarti telah diberi kunci oleh Allah untuk membuka dan menghasilkan lain-lain karunia kebesaran dari Allah.

20230707

Pendekatan 76.8: Ibrahim Al-Khawaash ra. berkata

76.8) Ibrahim Al-Khawaash ra. berkata : 

Ketika saya di tengah perjalanan tiba-tiba merasa lapar, kemudian sampai di kota Array, maka berkata dalam hati : 

Di sini saya ada banyak sahabat, maka jika saya bertemu tentu mereka akan menjamu saya, maka ketika telah masuk ke kota, tiba-tiba saya melihat perbuatan-perbuatan mungkar, yang mana saya merasa berkewajiban harus nahi mungkar.

Tiba-tiba saya ditangkap dan dipukuli oleh orang-orang. Sehingga bertanya dalam hati : 

Mengapa saya dipukuli oleh orang padahal saya ini lapar. Tiba-tiba diingatkan dalam hatiku : 

Engkau mendapat hukuman itu karena kau mengharap dijamu oleh sahabat-sahabatmu. 


Firman Allah dalam salah satu wahyunya : 

Sesungguhnya seringan-ringan siksaKu terhadap orang alim 

jika ia mengutamakan syahwatnya daripada cintaKu, 

akan Aku haramkan daripada merasakan kelezatan bermunajat kepada Ku. 

20230630

Pendekatan 76.7: Ibrahim bin Adham ra. berkata

 

76.7) Ibrahim bin Adham ra. berkata : 

Seorang tidak akan mencapai darajat orang sholihin, sehingga melalui enam rintangan : 

1. Menutup pintu kemuliaan, membuka pintu kehinaan. 

2. Menutup pintu nikmat, membuka pintu kesukaran. 

3. Menutup pintu istirahat, membuka pintu perjuangan. 

4. Menutup pintu tidur, membuka pintu jaga. 

5. Menutup pintu kekayaan, membuka pintu kemiskinan. 

6. Menutup pintu harapan, membuka pintu bersiap menghadapi maut. 

20230623

Pendekatan 76.6: Abu Sulaiman Addarany ra. berkata

 

76.6) Abu Sulaiman Addarany ra. berkata : Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as. : 

Sesungguhnya Aku menjadikan itu syahwat hanya untuk orang-orang yang lemah dan pada hambaKu, karena itu awaslah jangan sampai hatimu tertawan oleh syahwat itu, 

maka seringan-ringan siksa untuknya ialah aku cabut manisnya rasa cinta kepadaku dari dalam hatimu.


Dalam sebagian wahyu Allah kepada Dawud as. : 

Hai Dawud berpeganglah pada ajaranKu, 

dan tahanlah nafsumu untuk kesenangan dirimu, 

jangan sampai engkau tertipu daripadanya, 

niscaya engkau terhijab dari cintaKu, 

putuskan syahwatmu karena Aku, 

sebab Aku hanya memberikan syahwat itu untuk hambaKu yang lemah, 

untuk apakah orang-orang yang kuat akan memuaskan syahwat, 

padahal ia akan mengurangi kelezatan bermunajat kepadaKu, 

sebab Aku tidak merelakan dunia ini untuk kekasihKu, 

bahkan Aku bersihkan ia dari padanya. 


Hai Dawud, jangan engkau mengadakan antaraKu dengan 

engkau suatu alam yang dapat menghijab engkau karena mabuk pada 

alam itu daripada cinta kepadaKu, mereka hanya perompak di tengah 

jalan terhadap hambaKu yang baru berjalan. 


Usahakanlah untuk meninggalkan syahwat dengan banyak puasa. 

Hai Dawud cintailah Aku dengan memusuhi hawa nafsumu, dan 

tahanlah dari syahwatnya, niscaya engkau melihat kepadaKu, dan 

engkau akan dapat melihat yang terbuka antaraKu dengan engkau. 

20230616

Pendekatan 76.5: Seorang sufi kehilangan anak

Seorang sufi kehilangan anak, 

hingga tiga hari tidak mendapat beritanya, 

maka ada orang yang berkata kepadanya : 

Mengapa engkau tidak minta kepada Allah, 

supaya mengembalikan anak itu kepadamu ? 

Jawabnya : Tantanganku terhadap putusan Allah itu akan lebih berat 

bagiku daripada hilangnya anak.

20230609

Pendekatan 76.4: Abaikanlah orang-orang yang masih bodoh

Rasulullah saw. bersabda : 

Tuhan telah mendidikku sebaik-baik didikan dan menyuruhku 

melakukan akhlak yang sebaik-baiknya. 


Yaitu dalam ayat 

Ambilah hati mereka dengan suka memaafkan, 

dan anjurkan perbuatan-perbuatan yang baik dan mudah, 

dan abaikanlah orang-orang yang masih bodoh, 

(jangan dituntut) mereka yang masih bodoh itu. 

20230602

Pendekatan 76.3: Tanda seorang mendapat TAUFIK atau DIHINAKAN

76.3) Tanda seorang mendapat TAUFIK itu ada TIGA : 

1 . Mudah mengerjakan amal kebaikan, padahal ia tidak niat dan bukan tujuannya. 

2. Berusaha untuk berbuat maksiat, tetapi selalu terhindar daripadanya. 

3. Selalu terbuka baginya kebutuhan dan hajat kepada Allah ta’ala. 



Tanda seorang yang DIHINAKAN oleh Allah ada TIGA : 

1. Sukar melakukan ibadat/taat, padahal ia sudah berusaha sungguh-sungguh. 

2. Mudah terjerumus ke dalam maksiat, padahal ia berusaha menghindarkannya. 

3. Tertutupnya pintu berhajat kepada Allah, sehingga merasa tidak perlu berdoa dalam segala hal.