KAEDAH KAJIAN DAN SANDARAN TERJEMAHAN AL-QURAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Setiap hasil pemikiran, pemerhatian, tinjauan, kajian, atau analisis tertakluk kepada kebenaran dan logik pada waktu ia dirangka, dan bukan pada garis waktu penerbitan. Kaedah dan skop yang digunakan adalah: PERTAMA Epistemologi Islam Bersepadu dengan aplikasikan pendekatan rekonstruktif (Tajdid) dan analisis sosio-historis (Kontekstual) secara dekonstruktif-evaluatif (Kritikal) serta tematik-konseptual (Analitikal) bagi membezakan ayat yang jelas(Muhkam) dan yang samar (Mutashabihah). KEDUA Sandaran utama terjemahan adalah : Terjemahan Pimpinan Ar Rahman JAKIM Malaysia. Terjemahan Indonesia dan Brunei juga diberi perhatian. Serta Tafsir Tarjuman al-Mustafid (Abad ke-17): Karya Syeikh Abdurrauf al-Fansuri al-Singkili dari Aceh yang disunting (tashih) olah Syeikh Ahmad al-Fatani tahun 1884M dan dicetak di Istanbul, Turki. KETIGA. Menjaga hukum syarak yang terikat dengan Asbabun Nuzul, Hadis Sahih, Sunnah Rasulullah dan sahabat yang empat. Kami usahakan tadabbur untuk gali dimensi pemikiran falsafah ilmu dan mukjizat intelektual Al-Quran. KEEMPAT. Kaedah Mantuq (makna tersurat) dan Mafhum al-Mukhalafah (makna sebalik) digunakan dengan terikat kepada pematuhan syarat minimum serta maksimum. Had ini bagi mengawal proses ijtihad supaya tidak tersasar, tidak terlebih, dan tidak tersalah faham maksud sebenar firman Allah dan sabda Rasulullah.

20230929

Pendekatan 89: Tujuan permintaan orang arif

89) Tujuan permintaan orang arif kepada Allah, hanya 

1. Semoga dapat bersungguh-sungguh dalam kehambaan dan 

2. Tetap dalam menunaikan kewajiban terhadap Tuhan. 


Abu Madyan berkata : 

1. Jauh berbeda antara orang yang semangat keinginannya kepada bidadari dan gedung, 

2. Dengan orang yang keinginannya selalu bertemu kepada Tuhan yang menciptakan dan yang mempunyai gedung. 

3. Sungguh-sungguh dalam sifat kehambaan ialah: berakhlak dan beradab sebagai seorang yang patuh taat kepada tuannya. 


20230922

Pendekatan 88: Jika engkau baik sangka terhadap Allah, tentu baik juga perbuatannya engkau.

88) Pengharapan yang sesungguhnya ialah yang disertai amal perbuatan kalau tidak demikian, maka itu hanya angan-angan (lamunan) belaka. 

Rasulullah saw. bersabda : 

Seorang yang sempurna akal ialah yang meneliti dirinya dan bersiap untuk menghadapi maut, 

sedang orang bodoh ialah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan mengharap berbagai macam harapan.


Ma’ruf Al Karkhi berkata : 

1. Mengharap surga tanpa amal perbuatan itu dosa, dan 

2. Mengharap syafaat tanpa sebab berarti tertipu, dan 

3. Mengharapkan rahmat dari siapa yang tidak engkau taati perintahnya berarti kebodohan. 


Al-Hasan ra. berkata : 

Sesungguhnya ada beberapa orang yang tertipu oleh angan-angan keinginan pengampunan, sehingga mereka keluar dari dunia (mati), sedang belum ada bagi mereka suatu hasanat (kebaikan) sama sekali. 

Sebab mereka berkata : 

Kami baik sangka terhadap Allah, pada hal berdusta dalam pengakuan itu, sebab andaikan mereka baik sangka terhadap Allah, tentu baik pula perbuatannya. 


Al-Hasan lalu membacakan ayat Qur’an : 

Itulah persangkaanmu terhadap Tuhan telah membinasakan kamu, maka kamu termasuk orang-orang yang rugi. 


Al-Hasan berkata : 

Hai hamba Allah berhati-hatilah kamu dan angan-angan (lamunan) yang palsu, sebab itu sebagai jurang kebinasaan, kamu akan sebarangan / terlalai karenanya, demi Allah tidak pernah Allah memberi pada seorang hamba kebaikan semata-mata kamu angan-angan belaka, baik untuk dunia maupun untuk akhirat.

20230915

Pendekatan 87: Orang arif tidak mempunyai isyarat

87) Bukan seorang arif itu, orang yang bila ia menunjuk sesuatu ia merasa bahwa Allah lebih dekat dan isyaratNya.

Tetapi orang arif itu ialah yang tidak mempunyai isyarat, 

karena merasa lenyap diri dalam wujud Allah, 

dan diliputi oleh pandangan (syuhud) kepada Allah. 

Yakni siapa yang masih mempunyai pandangan kepada sesuatu selain Allah, 

maka belum sempurna sebagai seorang (yang mengenal kepada Allah).

Tetapi seorang arif yang sesungguhnya ialah yang merasakan kepalsuan segala sesuatu selain Allah, sehingga pandangannya tiada lain melainkan kepada Allah. 

20230908

Pendekatan 86: Allah suka pada tiap hati yang selalu berduka cita

86) Sedih karena tidak dapat melakukan suatu amal ibadat, yang disertai oleh rasa malas untuk melakukannya, itu suatu tanda bahwa ia terpedaya (tertipu) oleh syaithan. 

Jika ketinggalan suatu amal kebaikan merasa sedih, tetapi bila mendapat kesempatan tidak segera melakukannya, maka itu suatu tanda telah dipermainkan oleh syaithan. 

Bersabda Nabi saw. : Sesungguhnya Allah suka pada tiap hati yang selalu berduka cita. 

Abu Ali Al Daqqad berkata : Seorang yang menyesal, dapat menempuh jalan menuju kepada Allah dalam tempo satu bulan, apa yang tidak dapat ditempuh oleh orang yang tidak merasa menyesal (sedih) dalam beberapa tahun.

Karena itu termasuk dalam sifat utama bagi Rasulullah saw. Mutawashilul-ahzan, daa'imul fikir Rasulullah saw. selalu merasa berduka cita dan selalu berfikir. 

Rabi'ah Al-Adawiyah mendengar seorang berkata : Alangkah sedihnya. Maka berkata : Rabi’ah : Katakanlah : Alangkah sedikitnya rasa sedihku, sebab bila engkau benar-benar merasa sedih, tidak berkesempatan untuk bersuka-suka. 

20230901

Pendekatan 85: Yang harus engkau minta dari Allah

85) Sebaik-baik yang harus engkau minta dari Allah, ialah apa-apa yang Allah menyuruh kamu. 

Yakni sebaik-baik yang harus engkau minta kepada Allah supaya engkau tetap iman, patuh taat pada semua perintah dan larangan, istiqamah dalam pengabdian diri ke hadirat Allah.

Itulah sebaik-baik yang harus engkau minta, baik untuk dunia maupun


untuk akhirat, sebab hanya itulah bahagia yang tiada tara bandingannya. 

Kerana itu sebaik-baik doa : 

Ya Allah aku mohon kepadaMu, ridhaMu, dan surgaMU, dan aku berlindung kepadaMu dari murkaMu dan api neraka. 

20230825

Pendekatan 84: Merasa cukup kaya dengan Allah dalam hatimu

84) Apabila Allah telah memberi rizki kepadamu berupa perasaan puas melakukan taat (ibadat) pada lahirmu, 

dan merasa cukup kaya dengan Allah dalam hatimu, 

sehingga benar-benar tidak ada sandaran bagimu kecuali Allah. 

Maka ketahuilah bahwa Allah telah melimpahkan kepadamu nikmat lahir batin. 

Seorang hamba dituntut dua perkara, yaitu 

(1) Menurut perintah dan meninggalkan larangan pada lahirnya, dan 

(2) Bersandar/berharap kepada Allah pada batinnya.

Kerana itu siapa yang diberi rizki oleh Allah demikian, berarti telah menerima kurnia nikmat Allah yang lengkap lahir batin. 


20230818

Pendekatan 83: Ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah

83) Jika kau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, maka perhatikan di dalam bagian apa Allah menempatkan kau. 

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Maka sesungguhnya Allah menempatkan/mendudukkan hambaNya, sebagaimana hamba itu mendudukkan Allah dalam jiwanya (hatinya). 

Al Fudhail bin Iyadh ra. berkata : Sesungguhnya seorang hamba dapat melakukan taat ibadat kepada Tuhan itu hanya menurut kedudukannya di sisi Tuhan, atas perasaan imannya terhadap Tuhan, atau kedudukan Tuhan di dalam hatinya. 

Wahb bin Munabbih berkata : Saya telah membaca dalam kitab-kitab Allah yang dahulu. Firman Allah : 

Hai anak Adam, taatilah perintahKu dan jangan engkau beritahukan kepadaKu apa keperluan yang baik bagimu. (Yakni engkau jangan mengajari kepadaKu apakah yang baik bagimu). 

Sesungguhnya Aku telah mengetahui kepentingan hambaKu, Aku memuliakan siapa yang patuh pada perintahKu, dan menghina siapa yang meremehkan perintahKu. Aku tidak menghiraukan kepentingan hambaKu, sehingga hambaKu memperhatikan hakKu (yakni kewajibannya terhadap Aku).

Pendekatan 82: Carilah manisnya amal itu pada tiga perkara.

82) Siapa yang dapat merasakan buah dan amal ibadatnya di dunia ini. maka itu dapat dijadikan tanda diterimanya amal itu oleh Allah kelak. 

Buah dan amal ibadat di dunia ini ialah merasakan lazat manisnya amal itu, sehingga terasa sebagai nikmat yang tidak ada bandingnya. 

Utbah Al-Ghulam berkata : Saya melatih diri sembahyang malam dua puluh tahun, setelah itu baru saya merasakan nikmat bangun malam, 

Tsabit Al-Bunani ra. berkata : Saya melatih membaca Qur’an dua puluh tahun setelah itu baru saya merasakan nikmat membaca Qur'an. 

Abu Turab berkata : Jika seorang 

(1) bersungguh-sungguh dalam niat amalnya, dapat merasakan nikmat amal itu sebelum mengerjakannya, dan 

(2) apabila ikhlas dalam melakukannya merasakan manisnya amal ketika melakukannya, dan amal yang sedemikian sifatnya, itulah amal yang diterima dengan kurnia Allah. 

Al-Hasan berkata : Carilah manisnya amal itu pada tiga, maka bila kamu telah mendapatkannya bergembiralah dan teruskan mencapai tujuanmu, apabila belum kamu dapatnya ketahuilah bahwa pintu masih tertutup yaitu ketika (1) ketika baca Qur’an, dan (2) ketika berzikir, dan (3) ketika sujud. 

Ada pula yang menerangkan : dan ketika bersedekah dan ketika bangun malam. Sejak bilakah kau merasa telah mengenal Allah ? 

Iaitu ketika akan berbuat pelanggaran terhadap ajaranNya merasa malu daripadaNya. 

20230811

Pendekatan 81: Tempat pembalasan bagi hamba yang mukmin

81) Sesungguhnya Allah menjadikan akhirat untuk tempat pembalasan bagi hamba yang mukmin, 

sebab dunia ini tidak cukup untuk tempat apa yang akan diberikan kepada mereka, 

juga karena Allah sayang akan memberikan balasan pahala mereka di tempat yang tidak kekal. 


Rasulullah saw bersabda : 

Sesungguhnya tempat pecut kuda di dalam surga lebih berharga (baik) dari dunia seisinya. 


Rasulullah saw. menceritakan apa yang disabdakan oleh Allah ta’ala : 

Aku telah sediakan untuk hambaKu yang solihin, apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata, atau didengar oleh telingan, atau 

tergerak dalam hati manusia. 


20230804

Pendekatan 80: Menjawab dan menceritakan semua yang ia tahu, itulah orang bodoh.

80) Siapa yang selalu menjawab segala pertanyaan, 

dan menceritakan segala yang telah dilihat, 

dan menyebut segala apa yang ia ingat (ketahui), 

maka ketahuilah bahwa yang demikian itu tanda kebodohan orang itu. 


Menjawab segala pertanyaan yang berhubungan ilmu bathin yang dituangkan Allah dalam hati orang arifin, 

menunjukkan adanya kebodohan, 

demikian pula jika menceritakan segala yang dilihat, 

sebab semua itu berupa rahasia Allah yang diberikan kepada seorang hambaNya, 

maka jika diterangkan kepada yang bukan ahlinya, 

hanya akan menjadikan ejekan dan pendustaan belaka. 

Karena itu menerangkan (menceritakan) berarti bodoh.