KAEDAH KAJIAN DAN SANDARAN TERJEMAHAN AL-QURAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Setiap hasil pemikiran, pemerhatian, tinjauan, kajian, atau analisis tertakluk kepada kebenaran dan logik pada waktu ia dirangka, dan bukan pada garis waktu penerbitan. Kaedah dan skop yang digunakan adalah: PERTAMA Epistemologi Islam Bersepadu dengan aplikasikan pendekatan rekonstruktif (Tajdid) dan analisis sosio-historis (Kontekstual) secara dekonstruktif-evaluatif (Kritikal) serta tematik-konseptual (Analitikal) bagi membezakan ayat yang jelas(Muhkam) dan yang samar (Mutashabihah). KEDUA Sandaran utama terjemahan adalah : Terjemahan Pimpinan Ar Rahman JAKIM Malaysia. Terjemahan Indonesia dan Brunei juga diberi perhatian. Serta Tafsir Tarjuman al-Mustafid (Abad ke-17): Karya Syeikh Abdurrauf al-Fansuri al-Singkili dari Aceh yang disunting (tashih) olah Syeikh Ahmad al-Fatani tahun 1884M dan dicetak di Istanbul, Turki. KETIGA. Menjaga hukum syarak yang terikat dengan Asbabun Nuzul, Hadis Sahih, Sunnah Rasulullah dan sahabat yang empat. Kami usahakan tadabbur untuk gali dimensi pemikiran falsafah ilmu dan mukjizat intelektual Al-Quran. KEEMPAT. Kaedah Mantuq (makna tersurat) dan Mafhum al-Mukhalafah (makna sebalik) digunakan dengan terikat kepada pematuhan syarat minimum serta maksimum. Had ini bagi mengawal proses ijtihad supaya tidak tersasar, tidak terlebih, dan tidak tersalah faham maksud sebenar firman Allah dan sabda Rasulullah.

20240719

Pendekatan 112: Siapakah orang yang telah dapat izin untuk berdoa ?

Apabila Allah telah melepaskan lidahmu untuk meminta, maka ketahuilah bahwa Allah akan memberi kepadamu. 


Abdullah bin Umar ra. berkata :

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang telah mendapat izin untuk berdoa, berarti telah dibukakan baginya pintu rahmat, dan tiada dimintai sesuatu yang lebih disukai oleh Allah daripada dimintai maaf dan selamat dunia akhirat. 


[Lain Hadits] : 

Rasulullah saw. bersabda . Siapa yang telah diberi kesempatan berdoa, maka tidak akan diharamkan dari hijab (diterimanya doa). 

Anas bin Malik ra. berkata : 

Rasulullah saw. bersabda : Apabila Allah kasih sayang pada seorang hamba, maka dituangkan kepadanya bala’, maka bila ia berdoa,

berkata Malaikat : Suara yang sudah terkenal, dan 

berkata Jibril : Tuhanku, hambaMu Fulan, sampaikan hajatnya.

Jawab Allah : Biarkan hambaKu, Aku suka mendengar suaranya, maka apabila

hamba berkata : Ya Rabbi. 

Jawab Tuhan : Labbaika hambaKu, tiada engkau berdoa melainkan Aku sambut, dan tiada engkau minta suatu melainkan pasti Aku berikan, Imma (ada kalanya) Aku segerakan untukmu, atau Aku simpan untukmu yang lebih baik bagimu, atau tolak daripadamu bala’ yang lebih besar dari itu.

-----------------------------

Kajian Lanjut.

[APAKAH Lain Hadits]

[APAKAH bala’]

[APAKAH Imma]

2 comments:

Anonymous said...

salamun,
kias,


dari izin allah;kami bagi pihak pemegangamanah, mengucapkan jutaan terima kasih,kepada mereka-mereka-tuanpuan yang telah membaca kan yassin 40;untuk membolehkan urusan kias; selisih malaikat 44; di siap pulih lengkap sempurnakan. terima kasih.


inshaallah.

Anonymous said...

salamun,
kias,


urusan kepada kiasnya 4 unsur;air angin api tanah,dari izin allah.siap pulih lengkap sempurna,fekahnya adatnya adabnya,[ilmu].inshaallah.


inshaallah.