KAEDAH KAJIAN DAN SANDARAN TERJEMAHAN AL-QURAN

PERTAMA Epistemologi Islam Bersepadu dengan aplikasikan pendekatan rekonstruktif (Tajdid) dan analisis sosio-historis (Kontekstual) secara dekonstruktif-evaluatif (Kritikal) serta tematik-konseptual (Analitikal) bagi membezakan ayat yang jelas(Muhkam) dan yang samar (Mutashabihah). KEDUA Sandaran utama terjemahan adalah : Terjemahan Pimpinan Ar Rahman JAKIM Malaysia. Terjemahan Indonesia dan Brunei juga diberi perhatian. Serta Tafsir Tarjuman al-Mustafid (Abad ke-17): Karya Syeikh Abdurrauf al-Fansuri al-Singkili dari Aceh yang disunting (tashih) olah Syeikh Ahmad al-Fatani tahun 1884M dan dicetak di Istanbul, Turki. KETIGA. Menjaga hukum syarak yang terikat dengan Asbabun Nuzul, Hadis Sahih, Sunnah Rasulullah dan sahabat yang empat. Kami usahakan tadabbur untuk gali dimensi pemikiran falsafah ilmu dan mukjizat intelektual Al-Quran.

20240531

Pendekatan 105: Ada ketika ditakdirkan engkau berbuat dosa.

Mungkin Allah membuka untukmu pintu taat, tetapi belum membuka bagimu pintu kabul (penerimaan).

Ada ketika ditakdirkan engkau berbuat dosa, tetapi ianya menjadi sebab sampaimu atau dekatmu kepada Allah. 


Abu Hurairah ra. berkata : 

Bersabda Nabi saw. : Demi Allah yang jiwaku ada ditanganNya, andai kata kamu tidak berbuat dosa, niscaya Allah singkirkan (matikan) kamu untuk diganti dengan orang-orang yang berbuat dosa serta minta ampun kepada Allah, lalu diampuni oleh Allah. 


20240524

Pendekatan 104: Tidak sempurna iman dan keyakinan sebelum nyata percaya dan syukur.

Sesungguhnya sebab terasa pedihnya atas penolakan Allah kepadamu itu, kerana engkau tidak mengerti hikmat Rahmat Allah dalam penolakan dengan tidak memberikan harapan kepadamu. 

Tiada sempurna iman keyakinan seorang terhadap Allah sebelum ia memiliki dua sifat : 

1. Percaya penuh kepada Allah, yakni bersandar dan berharap hanya kepada Allah.

2. Syukur (terima kasih) kepada Allah karena dihindarkan dari padanya apa yang diujikan kepada lain-lain orang yaitu yang berupa kekayaan dunia.

Juga tidak sempurna iman dan keyakinan hamba sebelum ia mengerti bahwa pemberian Allah sesuatu yang manfaat, dan penolakan Allah itu karena ada madharrat bahaya. 


20240517

Pendekatan 103: Memberi itu kurnia, menolak itu kekuasaan.

Apabila Allah memberi kurnia kepadamu, maka Ia akan menunjukkan kepadamu belas kasihNya.


Apabila menolak pemberianNya atasmu, maka Ia akan menunjukkan kepadamu kekuasaanNya.


Apabila Ia dalam semua itu memperkenalkan diri kepadamu, dan menghadapkan kepadamu dengan kehalusan pemberian pemeliharaanNya kepadamu. 

Harus setiap hamba mengenal Tuhan, dengan segala sifat-sifat kebesaranNya. Maka siapa yang tidak suka mengenal dengan sifat 

Mu’thi. Wahhab (pemberi) harus ia mengenal Allah dengan sifat : 

- Mani’ (menolak) 

- Muntaqim (membalas)

- Qahhar (memaksa).

Tetapi apabila telah mengenal hikmat Rahmat Allah, maka terasa bahwa semua itu semata-mata kurnia Allah kepada hambaNya. 


Sufyan Astsaury bertemu dengan Abu Habib Al-Badry, dan memberi 

salam.

Abu Habib bertanya : Engkaulah Sufyan Astsaury yang terkenal 

itu.


Jawabnya : Benar, semoga Allah memberkahi apa yang dikatakan 

orang-orang itu.


Lalu berkata Abu Habib : Hai Sufyan, tidak ada suatu kebaikan melainkan berasal dari Tuhan.


Jawab Sufyan : Benar 


Ditanya : Mengapakah kamu tidak suka bertemu pada siapa yang tiada kebaikan kecuali dari padaNya.


Hai Sufyan : Penolakan Allah kepadamu itu berarti pemberian kumiaNya kepadamu, sebab ia tidak menolak karena bakhil atau tidak ada, hanya ia menolak permintaanmu itu karena kasihnya kepadamu dan untuk menguji kamu.


Hai Sufyan, Sesungguhnya aku masih senang duduk dengan engkau tetapi bersamamu itu ada kesibukan, kemudian Abu Habib menuju ke kambingnya dan membiarkan Sufyan Astsaury. 


20240510

Pendekatan 102: Andainya Allah tidak buatkan surga dan neraka.

Siapa yang menyembah Allah kerana harap sesuatu, 

atau untuk menolak bahaya siksa atas dirinya, 

maka dia BELUM tunaikan kewajibannya

terhadap sifat-sifat Allah. 


Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Daud as. : 

Sesungguhnya orang yang sangat Aku kasih kepadanya ialah yang 

beribadat bukan karena upah pemberian, tetapi semata-mata karena 

Aku berhak untuk disembah. 


Dalam kitab Zabur ada tersebut :

Dan siapakah yang lebih kejam 

dari orang yang menyembahKu 

karena surga atau neraka. 


Andainya Aku tidak buat surga dan neraka

maka Aku tidak berhak untuk disembah?


Bersabda Nabi saw. : 

Jangan berlaku sebagai seorang hamba yang busuk jika takut, lalu bekerja.


Jangan berbuat sebagai buruh yang busuk jika tidak dibayar lalu tidak bekerja. 


Pemberian Allah kepada hamba itu sudah lebih  dari yang diharapkan yaitu hidupnya, nafasnya, panca inderanya dan kesehatannya dan lain-lainnya. 

Abu Hazim berkata :

Saya malu menyembah Allah karena pahala,  seperti buruh yang busuk jika tidak dibayar tidak bekerja atau menyembah karena takut siksa seperti budak yang curang jika tidak takut siksa tidak bekerja, tetapi saya menyembah Allah karena cinta kepadaNya. 



Sufyan Astsaury minta nasehat dari Rabi’ah Al-adawiyah, maka 

berkata Rabi’ah :

Engkau seorang yang baik

jika engkau tidak 

cinta kepada dunia. 

20240502

Pendekatan 101: Kelezatan berzikir di tengah malam.

Cukup sebagai balasan Allah PADA orang-orang yang beramal, atas APA yang telah dibukakan OLEH Allah (dalam hati mereka) DARI kegemaran melakukan taat dan APA yang diberikan Allah KEPADA mereka yang berupa: 

- Kesenangan berzikir 

- kepuasan berkhalwat, 

- Menyendiri dengan Allah. 


TIADA nikmat dunia yang sama seperti nikmat surga, KECUALI nikmat yang dirasakan oleh ahli zikir (dalam perasaan hati mereka) MELALUI kelezatan berzikir di tengah malam.



20231208

Pendekatan 100: Allah jadikan kita ahli yang taat beribadat sebagai balasan atas ketaatan kita.

Cukup menjadi balasan Allah atas ketaatanmu, jika Allah redha (rela) menjadikan engkau ahli taat/ibadat. 

Taufiq dan hidayah yang diberikan Allah kepada seorang hamba itu sebagai kurnia yang sebesar-besarnya bagi seorang hamba, sebab dengan hidayat dan taufiq itulah seorang hamba dapat menerima nikmat dan bahagia dunia akhirat.

[ Jika Allah menjadikan engkau hamba yang taat beribadat maka itulah balasan Allah atas ketaatan engkau.

Ada yang taat, tetapi hidup dalam kesempitan. Ada yang bergelumang dosa, tetapi hidup dalam kesenangan.

Allah SWT berkuasa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia hendaki sesuatu, Dia hanya berkata, “Jadilah!” maka jadilah sesuatu itu. ]

20231130

Pendekatan 99: Ada amalan yang dibalas segera didunia dan ada yang ditangguh diakhirat.

Maha agung Tuhan, jika seorang hamba beramal maka tidak ditangguh (segera) akan dibalas kemudian hari. 

[ Setiap amalan ada balasannya. Ada yang segera dan ada yang ditangguhkan.

Panjang angan-angan boleh melupakan akhirat dan mengikut hawa nafsu itu menentang yang hak. Dunia sudah berjalan meninggalkan kita dan akhirat akan tiba. Masing-masing ada pengikut, maka jadilah pengikut akhirat dan jangan menjadi pengikut dunia.

Hari ini beramal tetapi tidak ada hisab. Bila sampai masa hisab tetapi tiada amal. Maka banyakkan amal sekarang sebab belum tentu dapat beramal hari esok.]


20231124

Pendekatan 98: Maha Memberi sementara hambanya menyampaikan pemberian tersebut. Maha Menolak kerana menyelamatkan hambanya dari mudarat.

Pemberian dari makhluk itu suatu KERUGIAN dan penolakan dari Allah itu suatu PEMBERIAN dan kurnia.

Ali bin Abi Thalib ra. berkata : Jangan merasa adanya yang memberi nikmat kepadamu selain Allah. Dan anggaplah segala nikmat yang engkau terima dari selain Allah itu sebagai kerugian, (yakni di antara engkau dengan Allah tidak ada perantara, maka semua nikmat yang engkau terima semata-mata dari Allah, dan bila terjadi engkau merasa menerima nikmat dari sesama manusia, maka itu sebagai kerugian bagimu). 

Seorang Hakim berkata : 'Makan' budi kebaikan manusia itu lebih berat daripada sabar karena kekurangan (ketiadaan). 

Pemberian dari makhluk, pada umumnya menyebabkan terhijab dari Allah, sehingga tidak ingat pada Allah, dan merasa berhutang budi kepada sesama manusia, dan inilah letak kerugian moral. 

Sebaliknya penolakan yang menyebabkan ingat kepada Allah itu, berarti suatu kurnia nikmat besar dari Allah. 

Pendekatan 97: Terlipatnya zaman, tempat, dunia dan nafsu adalah karomah para wali. Tetapi Istiqamah lebih baik dari Karomah.

Singkatnya jalan yang sesungguhnya, ialah jika terlipat untukmu jarak-jarak dunia ini, sehingga engkau dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada dirimu sendiri. 

Ath-thayyu : Terlipatnya bumi, sehingga jarak yang sejauh-jauhnya dapat ditempuh dengan satu langkah sudah sampai. 

Ath-thayyu : Juga berarti menghabiskan masa siang malam dengan sembahyang dan puasa semata-mata. 

Dalam lain keterangan Ibn Atha Allah berkata : Andaikan nur keyakinan itu telah terbit terang dalam hatimu, pasti engkau akan dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada engkau akan pergi ke sana, dan pasti dapat melihat segala keindahan dunia ini diliputi oleh suramnya kerusakan atau kehancuran yang bakal menimpa kepadanya. 

Link Pilihan:

https://dinulqoyim.com/lipatan-yang-sebenarnya/

20231117

Pendekatan 96: Segala kekuasaan dan kebesarannya hanya milik Allah.

Jika engkau ingin mendapatkan kemuliaan yang tidak rosak, maka jangan membanggakan kemuliaan yang rosak. 

Sentiasa baca Al Fatihah

Kemuliaan yang tidak rosak hanya kemuliaan dengan Allah, bersandar diri kepada Allah, sebab Allah kekal tidak rosak. Adapun jika berbangga dengan kekayaan, kebangsaan, kedudukan, maka semua itu palsu, rosak dan tidak kekal, maka siapa yang bersandar atau berbangga dengan kepalsuan atau bayangan, maka pasti binasa dan rosak bersama dengan apa yang dibanggakan itu. 

Firman Allah : 

Apakah mereka mengharapkan pada apa yang mereka sanjung itu suatu kemuliaan, ketahuilah sesungguhnya kemuliaan itu semuanya milik dan hak Allah Ta’ala. 

Hikayat : Seorang datang kepada Raja Harun Arrasyid untuk memberi nasehat, tiba-tiba Harun Arrasyid marah kepadanya, lalu memerintahkan kepada pengawalnya supaya mengikat orang itu bersama dengan keledainya yang nakal, supaya mati ditendang keledai. Setelah perintah itu dilaksanakan, tiba-tiba keledai itu baik (tidak nakal) kepada orang yang akan dihukum. 


Kemudian Harun Arrasyid menyuruh supaya dimasukkan dalam rumah dan pintunya ditutup dengan simen, supaya mati di dalamnya, tiba-tiba orang yang dipenjara itu telah ada di kebun, sedang pintu rumah tetap tertutup, maka dipanggil oleh Harun Arrasyid dan ditanya : Siapa yang mengeluarkan engkau dari rumah? 

Jawabnya : Yang memasukkan saya dalam kebun. 

Disoal lagi: Dan siapa yang memasukkan ke dalam kebun ? 

Jawabnya : Yang mengeluarkan aku dari rumah.

Kemudian menyuruh pengawalnya membawa orang itu di atas kendaraan keliling kota, dan memberitahu kepada orang-orang : Ingatlah bahwa Harun Arrasyid akan menghina seorang yang telah dimuliakan oleh Allah, maka tidak dapat. 


Seorang datang kepada seorang arif sambil menangis, maka ditanya oleh 

orang arif (wali) : Mengapa engkau menangis ? Jawabnya : Karena guruku telah mati. Berkata orang arif : Mengapakah engkau berguru kepada orang yang mati.