71) Tiada sesuatu yang dapat memimpin/menuntun engkau seperti angan-angan (bayangan yang kosong).
Wahm : Ialah tiap-tiap angan-angan terhadap sesuatu selain dari Allah, yang berarti angan-angan terhadap sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
PENAFIAN: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ Ini koleksi Pengurusan Ilmu peribadi kami untuk pendidikan & pembelajaran, bukan perdebatan. Allah SWT beri ruang bertanya & berbincang. Perlu ada sabar & cerdik supaya tahu, kenal, faham, mengerti dan pasti dengan dalam iman. Inilah dakwah kecil (الدَّعْوَةُ الصَّغِيرَةُ) kami. Moga Allah SWT jauhkan kita dari keburukan, kerugian, kehinaan & kesombongan melalui apa yang dikongsi di sini. آَمِيْن.
71) Tiada sesuatu yang dapat memimpin/menuntun engkau seperti angan-angan (bayangan yang kosong).
Wahm : Ialah tiap-tiap angan-angan terhadap sesuatu selain dari Allah, yang berarti angan-angan terhadap sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
70) Tidak akan berkembang biak berbagai cabang kehinaan itu, kecuali di atas bibit tamak (kerakusan). Sifat tamak (rakus) itu adalah bibit dari segala macam kehinaan dan kerendahan.
Ahubakar Al-Warraq Alhakiem berkata : Andaikan sifat tamak itu dapat ditanyaii : Siapakah ayahmu? Pasti jawabnya : Ragu terhadap takdir Allah. Dan bila ditanya : Apakah pekerjaan mu ? Jawabnya : Merendahkan diri. Dan bila ditanya : Apakah tujuanmu? Jawabnya : Tidak dapat apa-apa.
Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. baru masuk ke masjid jami’ di Basrah, didapatkan banyak orang yang memberi ceramah di dalamnya. Maka ia menguji mereka dengan beberapa pertanyaan dan yang ternyata tidak dapat menjawab dengan tepat, diusir dan tidak diizinkan memberi ceramah di masjid itu, dan ketika sampai ke majlis Al-Hasan Al-Basry, ia bertanya : Hai pemuda, saya akan bertanya kepadamu sesuatu, jika engkau dapat menjawab, aku izinkan engkau terus mengajar di sini, tetapi jika engkau tidak dapat menjawab, aku usir engkau sebagaimana lain-lain temanmu yang telah aku usir itu.
Jawab Al-Hasan : Tanyakan sekehendakmu.
Sayyidina Ali bertanya : Apakah yang dapat mengukuhkan agama ?
Jawab Al-Hasan : Wara’ (yakni berjaga-jaga diri/menjauh dari segala syubhat dan haram). Lalu ditanya : Apakah yang dapat merusak agama ? Jawabnya : Tamak (rakus). Imam Ali berkata kepadanya : Engkau boleh tetap mengajar di sini, orang yang seperti engkau inilah yang dapat memberi ceramah kepada orang-orang.
Seorang guru berkata : Dahulu ketika dalam permulaan bidayahku di Iskandariyah, pada suatu hari ketika aku akan membeli suatu keperluan dari seorang yang mengenal aku, timbul dalam perasaan hatiku; mungkin ia tidak menerima uangku ini, tiba-tiba terdengar suara yang berbunyi : Keselamatan dalam agama hanya dalam memutuskan harapan dari sesama makhluk.
Wara’ dalam agama itu menunjukkan adanya keyakinan dan sempurnanya bersandar diri kepada Allah.
Wara’ yaitu jika sudah merasa tiada hubungan antara dia dengan makhluk, baik dalam pemberian, penerimaan atau penolakan, dan semua itu hanya terlihat langsung dari Allah ta’ala.
Sahi bin Abdullah berkata : Di dalam iman tidak ada pandangan sebab perantara, sebab itu hanya dalam Islam sebelum mencapai iman.
Semua hamba pasti akan makan rizqinya, hanya mereka berbeda-beda : ada yang makan dengan berhina-hina yaitu peminta-peminta. Ada yang makan rizqinya dengan bekerja keras yaitu kaum buruh, ada yang makan rizqinya dengan menunggu, yaitu pedagang yang menunggu lakunya barang. Adapun yang makan rizqinya dengan rasa mulya, yaitu orang sufi yang merasa tidak ada perantara dengan Tuhan.
69) Allah telah memutuskan orang-orang yang berjalan menuju kepadaNya, dan yang telah sampai padaNya, daripada melihat/mengagumi amal (ibadat) dan keadaan diri mereka.
Adapun orang yang masih sedang berjalan, karena mereka dalam amal perbuatan ibadat itu belum dapat melaksanakan dengan ikhlas menurut apa yang diperintahkan.
Adapun orang-orang yang telah sampai, maka karena mereka telah sibuk melihat kepada Allah, sehingga lupa pada amal perbuatan sendiri.
Sehingga bila ada perbuatan diri, maka itu hanya kurnia taufiq dari Allah semata-mata.
Tanda bahwa Allah telah memberikan taufiq hidayat pada seorang hamba, apabila disibukkan hamba itu dengan amal perbuatan taat, tetapi diputuskan daripada ujub dan bangga dengan amal perbuatan itu, karena merasa belum tepat mengerjakannya, atau karena merasa bahwa perbuatan itu semata-mata kurma Allah sedang ia sendiri merasa tiada berdaya untuk melaksanakan, andaikan tiada kurma rahmat Allah.
68) Jangan merasa gembira atas perbuatan taat (bakti) karena engkau
merasa telah dapat melaksanakannya, tetapi bergembiralah atas perbuatan
taat itu, karena ia sebagai kurnia taufiq, hidayat dari Allah kepadamu.
Katakanlah : Karena merasa mendapat kurnia dan rahmat Allah,
mereka harus gembira. Itulah yang lebih baik daripada yang dapat
mereka kumpulkan. (Yunus 58)
Gembira atas perbuatan taat itu jika karena merasa mendapat
kehormatan kurnia dan rahmat Allah sehingga dapat melakukan taat,
maka itu baik. Sebaliknya jika gembira karena merasa diri sudah kuat
dan sanggup melaksanakan taat, maka ini menimbulkan ujub/sombong
dan bangga yang akan membinasakan amal taat itu.
Nur itulah yang
menerangi (membuka)
dan bashirah (matahati)
itulah yang menentukan hukum,
dan hati yang melaksanakan atau
meninggalkan Nur itulah
yang menerangi baik dan buruk,
lalu dengan
matahati ditetapkan hukum,
dan setelah itu maka hatinya
yang melaksanakan atau menggagalkannya.
Nur (cahaya terang) itu sebagai tentera yang membantu hati,
sebagaimana gelap itu tentera yang membantu hawa nafsu.
Maka
apabila Allah akan menolong seorang hambaNya, dibantu dengan
tentera nur Ilahi dan dihentikan bantuan kegelapan dan kepalsuan.
Nur (cahaya terang) yang berupa tauhid, iman dan keyakinan
itu sebagai tentera pembela pembantu hati,
sebaliknya kegelapan syirik dan ragu itu
sebagai tentera pembantu hawa nafsu,
sedang
perang yang terjadi antara keduanya
tidak kunjung berhenti, dan
selalu menang kalah.
Dan disinilah terlihat jelas pengertian :
Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat
menyesatkannya.
Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat
menunjukinya.
Siapa yang diberi petunjuk (hidayat) oleh Allah maka ialah yang
mendapat petunjuk hidayat, dan siapa yang disesatkan oleh Allah,
maka tidak akan engkau dapatkan pelindung atau pemimpin untuknya.
Nur (cahaya-cahaya) iman,
keyakinan dan dzikir
itu semua
sebagai kendaraan
yang dapat mengantarkan
hati manusia ke hadirat Allah
serta menerima segala rahasia daripadaNya.
keluar/terlepas dari kurungan bentuk kejadian dan sifat-sifatmu, ke
alam luar yang berupa ma'rifat
mengenal kebesaran kekuasaan dan
kurnia Tuhanmu.
Dalam tiga pelajaran berkenaan dengan warid (kurnia Tuhan)
yang pertama diberikan kepadamu,
supaya kau ringan melakukan taat ibadat dan mendekat ke hadirat Allah, tetapi kemungkinan masih kurang ikhlas,
maka diturunkan warid yang kedua
untuk melepaskan
dari tujuan kepada sesuatu selain Allah,
sedang warid yang ketiga
untuk melepaskan dirimu dari sifat-sifat wujud yang sempit kepada
alam melihat kebesaran Tuhan yang tidak terbatas, sehingga lupa
kepada diri dan hanya ingat kepada Allah semata-mata.
(yaitu ilmu pengertian atau perasaan dalam hati,
sehingga mengenal dan merasa benar-benar akan kebesaran kurnia rahmat Allah),
hanya semata-mata supaya kau
mendekat dan masuk ke hadirat Allah.