KAEDAH KAJIAN DAN SANDARAN TERJEMAHAN AL-QURAN

PERTAMA Epistemologi Islam Bersepadu dengan aplikasikan pendekatan rekonstruktif (Tajdid) dan analisis sosio-historis (Kontekstual) secara dekonstruktif-evaluatif (Kritikal) serta tematik-konseptual (Analitikal) bagi membezakan ayat yang jelas(Muhkam) dan yang samar (Mutashabihah). KEDUA Sandaran utama terjemahan adalah : Terjemahan Pimpinan Ar Rahman JAKIM Malaysia. Terjemahan Indonesia dan Brunei juga diberi perhatian. Serta Tafsir Tarjuman al-Mustafid (Abad ke-17): Karya Syeikh Abdurrauf al-Fansuri al-Singkili dari Aceh yang disunting (tashih) olah Syeikh Ahmad al-Fatani tahun 1884M dan dicetak di Istanbul, Turki. KETIGA. Menjaga hukum syarak yang terikat dengan Asbabun Nuzul, Hadis Sahih, Sunnah Rasulullah dan sahabat yang empat. Kami usahakan tadabbur untuk gali dimensi pemikiran falsafah ilmu dan mukjizat intelektual Al-Quran.

20230421

Pendekatan 71: Tiap-tiap angan-angan terhadap sesuatu selain dari Allah

 71) Tiada sesuatu yang dapat memimpin/menuntun engkau seperti angan-angan (bayangan yang kosong). 

Wahm : Ialah tiap-tiap angan-angan terhadap sesuatu selain dari Allah, yang berarti angan-angan terhadap sesuatu yang tidak mungkin terjadi. 

20230414

Pendekatan 70: Andaikan sifat tamak itu dapat ditanyai

 70) Tidak akan berkembang biak berbagai cabang kehinaan itu, kecuali di atas bibit tamak (kerakusan). Sifat tamak (rakus) itu adalah bibit dari segala macam kehinaan dan kerendahan. 

Ahubakar Al-Warraq Alhakiem berkata : Andaikan sifat tamak itu dapat ditanyaii : Siapakah ayahmu? Pasti jawabnya : Ragu terhadap takdir Allah. Dan bila ditanya : Apakah pekerjaan mu ? Jawabnya : Merendahkan diri. Dan bila ditanya : Apakah tujuanmu? Jawabnya : Tidak dapat apa-apa.

Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. baru masuk ke masjid jami’ di Basrah, didapatkan banyak orang yang memberi ceramah di dalamnya. Maka ia menguji mereka dengan beberapa pertanyaan dan yang ternyata tidak dapat menjawab dengan tepat, diusir dan tidak diizinkan memberi ceramah di masjid itu, dan ketika sampai ke majlis Al-Hasan Al-Basry, ia bertanya : Hai pemuda, saya akan bertanya kepadamu sesuatu, jika engkau dapat menjawab, aku izinkan engkau terus mengajar di sini, tetapi jika engkau tidak dapat menjawab, aku usir engkau sebagaimana lain-lain temanmu yang telah aku usir itu. 

Jawab Al-Hasan : Tanyakan sekehendakmu. 

Sayyidina Ali bertanya : Apakah yang dapat mengukuhkan agama ? 

Jawab Al-Hasan : Wara’ (yakni berjaga-jaga diri/menjauh dari segala syubhat dan haram). Lalu ditanya : Apakah yang dapat merusak agama ? Jawabnya : Tamak (rakus). Imam Ali berkata kepadanya : Engkau boleh tetap mengajar di sini, orang yang seperti engkau inilah yang dapat memberi ceramah kepada orang-orang. 

Seorang guru berkata : Dahulu ketika dalam permulaan bidayahku di Iskandariyah, pada suatu hari ketika aku akan membeli suatu keperluan dari seorang yang mengenal aku, timbul dalam perasaan hatiku; mungkin ia tidak menerima uangku ini, tiba-tiba terdengar suara yang berbunyi : Keselamatan dalam agama hanya dalam memutuskan harapan dari sesama makhluk. 

Wara’ dalam agama itu menunjukkan adanya keyakinan dan sempurnanya bersandar diri kepada Allah. 

Wara’ yaitu jika sudah merasa tiada hubungan antara dia dengan makhluk, baik dalam pemberian, penerimaan atau penolakan, dan semua itu hanya terlihat langsung dari Allah ta’ala. 

Sahi bin Abdullah berkata : Di dalam iman tidak ada pandangan sebab perantara, sebab itu hanya dalam Islam sebelum mencapai iman. 

Semua hamba pasti akan makan rizqinya, hanya mereka berbeda-beda : ada yang makan dengan berhina-hina yaitu peminta-peminta. Ada yang makan rizqinya dengan bekerja keras yaitu kaum buruh, ada yang makan rizqinya dengan menunggu, yaitu pedagang yang menunggu lakunya barang. Adapun yang makan rizqinya dengan rasa mulya, yaitu orang sufi yang merasa tidak ada perantara dengan Tuhan. 

20230407

Pendekatan 69: Siapakah yang berjalan, Yang sedang berjalan dan yang telah sampai kepada Allah.

 69) Allah telah memutuskan orang-orang yang berjalan menuju kepadaNya, dan yang telah sampai padaNya, daripada melihat/mengagumi amal (ibadat) dan keadaan diri mereka. 

Adapun orang yang masih sedang berjalan, karena mereka dalam amal perbuatan ibadat itu belum dapat melaksanakan dengan ikhlas menurut apa yang diperintahkan. 

Adapun orang-orang yang telah sampai, maka karena mereka telah sibuk melihat kepada Allah, sehingga lupa pada amal perbuatan sendiri. 

Sehingga bila ada perbuatan diri, maka itu hanya kurnia taufiq dari Allah semata-mata. 

Tanda bahwa Allah telah memberikan taufiq hidayat pada seorang hamba, apabila disibukkan hamba itu dengan amal perbuatan taat, tetapi diputuskan daripada ujub dan bangga dengan amal perbuatan itu, karena merasa belum tepat mengerjakannya, atau karena merasa bahwa perbuatan itu semata-mata kurma Allah sedang ia sendiri merasa tiada berdaya untuk melaksanakan, andaikan tiada kurma rahmat Allah. 

20230331

Pendekatan 68: Jangan gembira kerana menjadi hamba yang taat.

 68) Jangan merasa gembira atas perbuatan taat (bakti) karena engkau 

merasa telah dapat melaksanakannya, tetapi bergembiralah atas perbuatan 

taat itu, karena ia sebagai kurnia taufiq, hidayat dari Allah kepadamu. 

Katakanlah : Karena merasa mendapat kurnia dan rahmat Allah, 

mereka harus gembira. Itulah yang lebih baik daripada yang dapat 

mereka kumpulkan. (Yunus 58) 


Gembira atas perbuatan taat itu jika karena merasa mendapat 

kehormatan kurnia dan rahmat Allah sehingga dapat melakukan taat, 

maka itu baik. Sebaliknya jika gembira karena merasa diri sudah kuat 

dan sanggup melaksanakan taat, maka ini menimbulkan ujub/sombong 

dan bangga yang akan membinasakan amal taat itu. 



20230317

Pendekatan 67: Hati yang melaksanakan atau yang menggagalkan.

 

Nur itulah yang 

menerangi (membuka) 

dan bashirah (matahati) 

itulah yang menentukan hukum, 

dan hati yang melaksanakan atau 

meninggalkan Nur itulah 

yang menerangi baik dan buruk, 

lalu dengan 

matahati ditetapkan hukum, 

dan setelah itu maka hatinya 

yang melaksanakan atau menggagalkannya.

20230310

Pendekatan 66: Yang diberi petunjuk dan yang disesatkan

 

Nur (cahaya terang) itu sebagai tentera yang membantu hati, 

sebagaimana gelap itu tentera yang membantu hawa nafsu. 

Maka 

apabila Allah akan menolong seorang hambaNya, dibantu dengan 

tentera nur Ilahi dan dihentikan bantuan kegelapan dan kepalsuan. 


Nur (cahaya terang) yang berupa tauhid, iman dan keyakinan 

itu sebagai tentera pembela pembantu hati, 

sebaliknya kegelapan syirik dan ragu itu 

sebagai tentera pembantu hawa nafsu, 

sedang 

perang yang terjadi antara keduanya 

tidak kunjung berhenti, dan 

selalu menang kalah. 


Dan disinilah terlihat jelas pengertian : 

Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat 

menyesatkannya. 


Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat 

menunjukinya. 


Siapa yang diberi petunjuk (hidayat) oleh Allah maka ialah yang 

mendapat petunjuk hidayat, dan siapa yang disesatkan oleh Allah, 

maka tidak akan engkau dapatkan pelindung atau pemimpin untuknya. 

20230303

Pendekatan 65: Keyakinan dan dzikir sebagai kendaraan

 

Nur (cahaya-cahaya) iman, 

keyakinan dan dzikir 

itu semua 

sebagai kendaraan 

yang dapat mengantarkan 

hati manusia ke hadirat Allah

serta menerima segala rahasia daripadaNya. 

20230224

Pendekatan 64: Tiga pelajaran berkenaan dengan warid

Allah memberikan kepadamu (warid kumianya) supaya engkau 

keluar/terlepas dari kurungan bentuk kejadian dan sifat-sifatmu, ke 

alam luar yang berupa ma'rifat 

mengenal kebesaran kekuasaan dan 

kurnia Tuhanmu. 


Dalam tiga pelajaran berkenaan dengan warid (kurnia Tuhan) 

yang pertama diberikan kepadamu, 

supaya kau ringan melakukan taat ibadat dan mendekat ke hadirat Allah, tetapi kemungkinan masih kurang ikhlas, 


maka diturunkan warid yang kedua 

untuk melepaskan 

dari tujuan kepada sesuatu selain Allah, 


sedang warid yang ketiga 

untuk melepaskan dirimu dari sifat-sifat wujud yang sempit kepada 

alam melihat kebesaran Tuhan yang tidak terbatas, sehingga lupa 

kepada diri dan hanya ingat kepada Allah semata-mata.

20230217

Pendekatan 63: Wirid untuk bebaskan diri dari perbudakan.

 Allah memberikan kepadamu warid itu 

semata-mata untuk, 

menyelamatkan engkau 

dari cengkeraman benda-benda, 

dan membebaskan 

dari perbudakan 

segala sesuatu 

selain Allah. 

20230210

Pendekatan 62: Diberi perasaan dalam hati hingga kenal.

Sesunggunya Tuhan memberikan kepadamu warid 

(yaitu ilmu pengertian atau perasaan dalam hati, 

sehingga mengenal dan merasa benar-benar akan kebesaran kurnia rahmat Allah), 

hanya semata-mata supaya kau 

mendekat dan masuk ke hadirat Allah.